Mengenal Enterobacter sakazakii

Mengenal Enterobacter sakazakii

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Nama Enterobacter sakazakii

Enterobacter sakazakii (Cronobacter spp.) ialah bakteri Gr negatif berupa tangkai yang tidak membuat spora. Sebelumnya, bakteri ini cuman diketahui untuk Enterobacter cloacae yang mempunyai pigmen kuning. Di tahun 1980-an Farmer dkk

mengidentifikasinya untuk spesies baru serta menyarankan nama Enterobacter sakazakii untuk penghargaan ke periset Jepang Riichi Sakazaki.

Berdasar karakter biokimiawinya sekarang ini ada 16 barisan E. sakazakii yang sudah diketahui. Dengan pertambahan pengetahuan mengenai karakter-sifat E. sakazakii di tahun 2007 Iversen dkk menyarankan E. sakazakii menjadi genus baru Cronobacter spp. Sebab nama yang termasuk baru itu, karena itu tutorial internasional yang diedarkan di tahun 2008 masih memberikan baik E. sakazakii

atau Cronobacter spp.

Sikap E. sakazakii dalam Pangan

Bakteri E. sakazakii tumbuh pada tenggang temperatur yang luas yaitu 6-47°C. Beberapa galur yang diisolasi dari susu formula di Kanada dapat tumbuh pada 5,5-8,0°C serta terhalang pada temperatur 4°. Rerata waktu pemisahan bakteri ini dalam susu formula ialah 40 menit pada 23°C serta 4.98 jam pada 10°C.

Berarti, bila ada 1.000 bakteri ini dalam susu formula yang telah direkonstitusi (dibikin siap minum) karena itu sesudah disimpan pada temperatur 23°C semasa 40 menit banyaknya jadi 2.000. Pada temperatur almari es (10°C), peningkatan jumlah itu baru diraih sesudah 5 jam. Batasan kesibukan air (aw) serta pH pangan untuk perkembangannya sedikit disampaikan.

Sebab E. sakazakii tidak membuat spora karena itu bakteri ini gampang dibunuh oleh panas. Dalam beberapa analisis, disampaikan jika nilai D60 E. sakazakii ialah 2,5 menit, berarti untuk turunkan jumlah E. sakazakii jadi 1/10-nya, dibutuhkan pemanasan pada temperatur 60 derajat Celcius semasa 2,5 menit.

Untuk deskripsi, bila jumlah awalannya 1.000 per mililiter, karena itu pemanasan pada temperatur 60 derajat Celcius semasa 2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit, 10 menit akan turunkan mikroba jadi beruntun 100, 10, 1 serta 0.1 per mililiter. Sebab terbagi dalam beberapa tipe, karena itu ketahanan panas bakteri ini cukup bermacam serta beberapa berbentuk toleransi pada panas.

Periset lain di Korea memberikan laporan jika rekonstitusi susu formula dengan air bersuhu 50°C akan mengakibatkan bakteri menyusut jadi 1/100-nya, sesaat dengan temperatur 65-70°C berlangsung pengurangan E. sakazakii jadi 1/10.000 sampai 1/1000.000-nya (Kim & Park, 2007). Walau tidak tahan panas, E. sakazakii ini disampaikan tahan pada kekeringan E. sakazakii tidak tumbuh tapi bisa bertahan dalam produk kering s/d beberapa waktu.

Penyakit Sebab E. sakazakii (Cronobacter spp.)

Dalam dua puluh tahun paling akhir terkumpul beberapa data mengenai infeksi pada barisan bayi rawan sebab E. sakazakii yang mencemari susu formula. Infeksi itu disampaikan bisa mengakibatkan tanda-tanda penyakit neonatal meningitis bacteremia, necrotizing enterocolitis (NEC), serta necrotizing meningoencephalitis (Muytjens & Kollee, 1990).

Semasa tenggang 1958-2002 di penjuru dunia, terdokumentasikan 25 kejadian infeksi E. sakazakii yang menyertakan 60-an bayi (Iversen & Forsythe, 2003). Dari 25 kejadian yang berlangsung, delapan salah satunya bisa dihubungkan dengan mengonsumsi susu formula. Jumlah kejadian infeksi ini termasuk rendah bila dibanding dengan bakteri lain seperti Salmonella. Oleh karena itu, the International Commission for Microbiological Specification for Foods (ICMSF, 2002) memeringkatkan bakteri ini untuk cemaran dengan tingkat bahaya yang kronis untuk populasi yang terbatas.

E. sakazakii termasuk untuk bakteri pangan ’emerging’ yang penting dicermati sebab dalam 20 tahun paling akhir diindikasikan bisa menyebabkan penyakit lewat makanan. Bakteri ini digolongkan untuk ‘patogen oportunistik’, yaitu bakteri yang mengakibatkan penyakit pada barisan rawan yang mempunyai kebal rendah.

Barisan yang rawan pada E. sakazakii ialah bayi berumur kurang dari satu bulan atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat tubuh lahir rendah atau bayi dari ibu yang menanggung derita AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Walau tidak ada bukti dengan cara pandemiologis mengenai jumlah infeksinya, Iversen & Forsythe (2003) memprediksi jika dibutuhkan 1.000 sel untuk berlangsungnya infeksi oleh E. sakazakii.

Sampai sekarang ini, ada faktor-faktor yang dipunyai oleh E. sakazakii yang disangka berperanan dalam berlangsungnya penyakit salah satunya protein invasin serta enterotoksin. Riset mengenai unsur virulensi bakteri ini terus berjalan di beberapa negara termasuk juga usaha untuk mendapatkan susunan enterotoksin yang dibuat.

Sumber E. sakazakii

E. sakazakii (Cronobacter spp.) sudah diisolasi dari beberapa sumber seperti lingkungan (tanah, air) serta makanan. Kecuali susu formula, makanan yang sempat disampaikan memiliki kandungan bakteri ini diantaranya keju, roti, tahu, teh asam, daging yang dikering, daging cacah serta sosis. E. sakazakii diketemukan pada khamir roti sebab bakteri ini adalah sisi dari flora permukaan biji sorghum serta biji padi.

Meski begitu kecuali susu formula pangan di atas belum pernah disampaikan mengakibatkan infeksi E. sakazakii. Ini kemungkinan disebabkan makanan itu tidak dikonsumsi oleh barisan bayi rawan di atas.

E. sakazakii serta Susu Formula

Berlangsungnya pencemaran susu formula oleh E. sakazkakii disangka dapat berlangsung oleh kontaminasi external yakni perlakuan yang jelek waktu merekonstitusi susu formula

dengan air atau kontaminasi internal semasa produksinya. Pencemaran semasa penyiapan bisa berlangsung dari orang, perangkat, debu atau lingkungan dan air yang dipakai.

Pencemaran semasa produksi peluang berlangsung sesudah proses pasteurisasi susu yakni semasa pengeringan, semasa pencampuran kering serta atau pengemasan. Sebab penumpukan laporan berkaitan E. sakazakii serta susu formula ini, semenjak tahun 2004 instansi pangan dunia Codex Alimentarius Commission, FAO/WHO bekerja bersama dengan lembaga-lembaga ahli serta negara anggota Codex membahas data-data ilmiah berkaitan penemuan E. sakazakii dari beberapa negara serta lakukan analisa efek dengan data yang terkumpul itu.

Hasil analisis efek semasa sekian tahun itu pada akhirnya bersumber pada diedarkannya tutorial Codex mengenai proses serta pengujian susu formula untuk produsen susu formula, dan tutorial buat rumah sakit atau rumah tangga dalam mempersiapkan (merekonstitusi) susu formula untuk diberi pada bayi.

Tutorial buat produsen yang dikeluarkan oleh Codex di tahun 2008 selekasnya diadopsi

oleh beberapa negara termasuk juga oleh Indonesia lewat satu Ketentuan Tubuh pengawas

Obat serta Makanan. Tutorial itu mewajibkan pengujian bakteri E. sakazakii yang

awalnya tidak dipersyaratkan di mana juga di penjuru dunia. Kriteria produksi

serta pengujiannya relatif ketat, walau tidak seketat untuk Salmonella yang dipandang

semakin tinggi frekwensi masalah infeksinya.

Tutorial Codex itu mewajibkan untuk setiap lot produksi dilaksanakan pengujian sekitar 30 contoh semasing 10 g serta jangan ada satu contoh juga yang teridentifikasi memiliki kandungan E. sakazakii. Bila ditransformasikan dengan cara statistika berdasar ICMSF (2002) karena itu satu lot susu formula akan jangan diperjualbelikan bila rerata jumlah E. sakazaki-nya lebih dari 1 dalam 278 g susu.

Tutorial buat customer atau rumah sakit bertambah dititikberatkan pada praktek sanitasi yang bagus buat orang (pekerja), air, botol yang dipakai untuk merekonstitusi susu formula dan limitasi waktu tidak untuk simpan susu formula yang sudah direkonstitusi pada temperatur kamar lebih dari 2 jam. Untuk penambahan, beberapa negara mengambil tutorial dari WHO (2007) yang mereferensikan rekonstitusi dengan memakai air bersuhu 70 derajat C untuk meminimalisir efek bakteri ini.

Penutup

Untuk bakteri pangan ’emerging’ yang baru mulai dibicarakan tahun 2004 pada tingkat internasional, E. sakazakii termasuk juga contoh sukses dalam mengurus bakteri baru. Sebab dialog serta penataan dibikin cukup awal, karena itu sampai saat ini tidak ada kejadian infeksi E. sakazakii sebab susu formula dalam jumlah besar yang mengisyaratkan jika bakteri ini teratasi.

Dalam perubahan tehnik deteksi mikroba serta tehnologi info yang cepat ini, bukan mustahil beberapa bakteri akan ada. Jika beberapa periset cukup

cepat ambil sisi dalam riset serta datanya bisa dikontribusikan pada pekerjaan analisa efek, karena itu beberapa bakteri yang banyak muncul dapat diperhitungkan serta diurus secara baik.

Bahan Bacaan:

CAC (Codex Alimentarius Commission). 2008. Kode of Hygienic Practice fpr Powdered

Formulae for Infants and Young Children.

http://www.codexalimentarius.net/unduh/standars/11026/cxp_066e.pdf

Farmer, J.J., Asbury, M.A., Hickman, F.W. Brenner, D.J. and The Enterobacteriaceae

study grup.1980. A new species of Enterobacteriaceae isolated from clinical

specimens. Intl. J. Systematic Bacteriol. 30 (3): 569-584.

ICMSF (International Commission on Microbiological Specification for Foods). 2002.

Microorganisms in Foods 7. Microbiological Testing in Food Safety Management.

Kluwer Academic, NY.

Iversen C serta Forsythe SJ. 2003. Risk Profil of Enterobacter sakazakii, an

emergent pathogen associated with infant milk formula. Trends in Food Science and

Technology 14: 443-454.

Iversen, C., Lehner, A., Mullane, N.,Bidlas, E., Cleenwerck, I., Marugg, J.,Fanning, S., Stephan, R. And Joosten, H. 2007. The taxonomy of Enterobacter sakazakii: proposal of new genus Cronobacter gen.nov. and descriptions of Cronobacter sakazakii comb.nov. Cronobacter sakazakii subsp. sakazakii, Cronobacter sakazakii subsp. malonaticus sbsp.nov., Cronobacter turicensis sp.nov., Cronobacter muytjensii sp.nov., Cronobacter dublinensis sp.nov. and Cronobacter genomospecies I. BMC Evolutionary Biology 7 (64).

Kim S-H serta Park J-H. 2007. Thermal resistance and inactivation of Enterobacter

sakazakii isolates during rehydration of powdered infant formula. J Microbiol

Biotechnol. 17 (2): 364-368.

Muytens, H.L., Zanen, H.C., Sonderkamp, H.J., Kollee, A., Wachsmuth, I.K., Farmer, J.J. 1983. Analysis of eight cases of neonatal meningitis and sepsis due to Enterobacter sakazakii. J. Clin. Microbiol. 18 (1):115-120.

Muytjens HL serta Kolle LA. 1990. Enterobacter sakazakii meningitis in neonates : causative role of formula? Pediatric Infectious Disease 9: 372-373.

WHO/FAO (World Health Organization and Food and Agriculture Organization of the United Nations). 2007. Safe Preparation, Storage and Handling of Powdered Infant Formula Guidelines.

*) Dr Ratih Dewanti-Hariyadi ialah dosen di Departemen Pengetahuan serta Tehnologi Pangan Periset di SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor. jadi anggota the International Commission on Microbiological Specifications for Foods (ICMSF) pada 2007 sampai saat ini.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/02/22/182348/1576582/103/mengenal-enterobacter-sakazakii–cronobacter-spp-?nd991107103

Check TKPnya : http://menujuhijau.blogspot.com/2011/02/mengenal-enterobacter-sakazakii.html#ixzz1Ritev3De